The Beginning

by chachathaib

Image

 

 

“Nobody said it was easy, no one ever said it would be this hard…

Oh, take me back to the start…”

Coldplay – The Scientist

 

I don’t know where to start, but…

belakangan ini baru saya sadari perbedaan yang begitu jauh antara sekadar keinginan dan memang karena kesiapan.

Menikah,

adalah satu hal yang begitu butuh kesiapan, bukan hanya sebuah keinginan.

Saya tidak akan bilang bahwa keputusan saya untuk menikah di umur yang masih 22 adalah sebuah keputusan yang salah.

tapi yang baru saya sadari adalah, saya menikah karena saya ingin. Bukan karena saya betu-betul siap. Itu yang salah, bukan keputusannya.

Banyak hal yang belum saya persiapkan dalam diri saya untuk saya hadapi.

Belum siap menerima kalau saya tidak seperti teman-teman lain yang bisa langsung diberi kesiapan untuk hamil,

belum siap menerima bahwa saya dan suami terkadang masih tetap harus berjauhan,

belum siap untuk lebih sering minta maaf, lebih sering memilih memaafkan, lebih sering disalahkan, lebih sering untuk patuh daripada memerintah, lebih sering untuk menerima daripada memberi, lebih sering untuk mengurus daripada diurus seperti saat masih lajang dan menjadi tanggung jawab orang tua, lebih sering mendengar daripada berbicara dan lain sebagainya.

ternyata kesiapan adalah sebuah hal besar, lebih besar dibanding yang saya duga,

dan menjadi istri,

adalah sebuah tanggung jawab besar, lebih besar dari ego saya sendiri, lebih besar dari keinginan-keinginan lain. Sebuah hal yang begitu besar, yang ternyata belum saya persiapkan dengan benar.

Ini adalah sebuah awal,

untuk sebuah hal besar yang tidak pernah saya temui dan saya jalanin sebelumnya.

sebuah awal,

untuk melangkah di bawah keikhlasan orang lain,

orang yang katanya dipersiapkan oleh Tuhan, yang disesuaikan dengan saya dengan segala kepantasan.