Sabarmu, Menguatkanku.

by chachathaib

Aku melempar pandanganku ke arah dua boneka di sudut tempat tidur.
Sesekali menyeka air mata yang hampir jatuh membasahi pipi, yang lebih sering bertemu perona daripada sebuah kecupan.
Di ujung sana masih kudengar suara lelaki yang tidak asing lagi, setiap hari kudengar suara itu berulang kali.
Lebih dari satu hari sekali. Dua atau bahkan tiga nada yang sama dari lelaki di seberang sana.

“Berhentilah menangis.” Katanya.

Aku tidak menjawab. Tenggorokanku rasanya masih tercekat rindu yang begitu dahsyat.

“Bukan cuma kamu yang rindu, pun aku. Bersabarlah.” Pintanya lagi.

Aku masih terdiam. Kali ini kubiarkan isak tangisku didengarnya lebih jelas. Persetan gengsi, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.

“Berapa kali kubilang, kalau kamu rindu. Ingat, kamu tidak sendirian. Aku juga merasakan yang sama di sini. Berat memang, tapi kita berdua tau ke mana yang kita tuju ‘kan? Sebentar lagi…”
“Iya, sebentar lagi…”

Akhirnya kujawab juga, dengan parau yang sepertinya membuatnya mulai kehabisan akal.

“Baiklah, aku kan pesan travel ke Jakarta untuk besok. Tapi berhentilah menangis. Setidaknya untuk malam ini. Sisanya saat kita bersama penghulu di kala Ijab Qabul nanti. Janji?”

Aku mengangguk mantap. Tanpa suara, hanya isak bahagia tersisa.
Lelaki di seberang sana, Si Penyabar yang tak pernah lelah mempertahankan ini semua. Si Penyabar, yang selalu menguatkan.
Terima kasih, kamu.