Hari Ini Hujan dan Kamu Tidak di Sini.

by chachathaib

 

Image

 

Hari ini hujan, dan lelakiku tidak di sini.

“Kamu di mana?”

“Di rumah, di sini hujan. Aku tidak bisa ke mana-mana. Ada apa?”

“Aku rindu. Jadi kamu tidak bisa ke sini?”

“Aku sudah bilang di sini hujan, aku tidak bisa ke mana-mana.”

“Baiklah.”

“Maaf.”

“Tidak apa. Mobilmu ke mana?”

“Ada. Hanya saja, hujan seperti ini jalanan Jakarta akan macet sekali. Kamu tau itu kan?”

“Ya.”

Aku membanting handphone-ku. Entah sudah keberapa kalinya lelaki ini menghindar untuk bertemu denganku. 

Tak lama setelahnya, men-dial nomor telepon sahabatku.

“Bisa bertemu hari ini? Ada yang ingin aku ceritakan.”

“Tentang apa? Lelakimu?”

“Ya. Dia masih menghindar untuk bertemu.”

“Diamkan saja, nanti pun kalau dia rindu, dia yang akan mencarimu. Aku tidak bisa beremu kamu, hari ini aku hari pertama menstruasi. Perutku sakit sekali.”

“Baiklah. Aku tidur saja kalau begitu. Cepat sembuh.”

“Terima kasih.”

 

 

— Di belahan lain Jakarta —

“Aku hari ini di rumah, kamu ke sini jam berapa?”

“Sudah di depan rumahmu. Bisa bukakan pintu?”

“Tunggu sebentar.”

“Sebentar, kamu tidak akan menemui kekasihmu hari ini ‘kan?”

“Tidak, aku sudah bilang di sini hujan deras dan aku tidak bisa berangkat menemuinya.”

“Dasar pembual yang tak bisa kutinggalkan!”

“Aku membual ‘kan demi bertemu kamu.”

“Alasan apa lagi yang kamu berikan kali ini?”

“Jalanan Jakarta macet. Klise tapi berhasil.”

“Terserah, cepat buka pintu. Aku rindu dan bosan diam-diam menjadi selingkuhanmu.”