“Satu Jam Lagi…”

by chachathaib

“Kamu pernah bilang bahwa cinta itu suatu hal baik, ‘kan?”
aku memandangi lelaki di hadapanku ini. Lelaki yang baru kukenal tiga bulan lalu di sebuah kedai kopi di daerah Cikini.
“Iya, maka itu cinta harus di mulai dengan cara yang baik pula.”
“Misalnya?”
“Berkenalan baik-baik, saling mencari tahu pribadi masing-masing dengan cara baik, berkomunikasi dengan baik.”
“Sudah? Itu saja?”
“Maksudmu?”
“Kalau dengan semua cara baik itu, tapi salah satu telah jadi milik orang lain. Apa masih bisa dilanjutkan?”
“Maksudmu, berselingkuh?”
“Aku tidak bilang seperti itu.”
“Jadi?”
“Ya, aku menanyakan. Apa masih bisa dibilang baik? Kalau menjalin cinta tapi salah satunya telah dicintai orang lain juga?”
“Mencintai dan dicintai ‘kan hak setiap jiwa manusia. Selama mereka berbahagia”
“Jadi?”
“Kita tutup obrolan ini. Pacarmu jadi jemput jam berapa?”
“Satu jam lagi.”

Lelaki itu lalu menggenggam jemariku, mengecup keningku, seolah aku miliknya. Sebelum aku bertemu yang benar-benar yang menamai dirinya kekasihku.