Tanpa Jeda

by chachathaib

Aku terduduk diam bersama beban rindu sesak di paru-paru,
menunggu cerita dari bibir yang pernah mengecup keningku.

Dari sudut sebelah aku memperhatikan, merasuk ke dalam kepalanya.
berdesakan dengan yang lain ingin jadi satu-satunya.
Dari sudut sebelah aku mendengarkan, melebur menjadi liur yang dilumat celotehannya.
berbaris rapi dengan aksara manis ingin jadi baris pertama.

Di sela perjalanan kita pernah saling menggengam,
juga gamang saling bertatapan.
Tangan itu yang kupakai untuk menghapus air mataku menyisakan legam.
Tangan yang membuatku memperjuangkan ketidakjelasan.

Seberharga itu kamu, seluas dan sedalam itu kisah kita.
Segala kerumitan tentang cinta, yang kunikmati (inginnya) tanpa jeda.