Cerita Tentang Hidup, Dalam Kata Dan Dengan Cinta

Mendung di Mata Ibu

Mendung di Mata Ibu

Entah kali ke berapa, aku menemukannya di sudut kamar memandangi pigura berwarna putih.
Belum aku tatap lekat-lekat siapa dalam kenangan berbingkai itu.

“Belum tidur, Bu?”
“Masih ada yang Ibu tunggu. Kamu duluan saja, Nak.”
“Aku temenin Ibu di sini ya?”
“Tidak usah. Nanti juga Ayahmu pulang…”

Aku berdiam lagi, kututup pintu kamar Ibu  rapat-rapat.
Begitu seterusnya hingga satu minggu.
Semakin hari gurat gusar di wajahnya kian jelas. Ayah tak juga pulang.

Tapi malam ini Ibu izinkan aku masuk,
duduk di pinggir kasur memegangi pigura putih yang Ia pandangi setiap hari.
Wajah Ayah dan Ibu saat muda, saat belum ada aku. Di ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.

Ternyata Ibu rindu, kepada suaminya. Kepada Ayahku. Yang belum lama meninggalkannya entah karena apa.
Mungkin rindu, yang menjadi alasan mengapa seringkali kulihat mendung di mata Ibu.
Yang mungkin tumpah setiap kali aku menutup pintu.

Aku rindu bingar di dalam kamar.
Tidak ada suara selain nafas yang terpacu bersahutan.
Kosong yang saling mengisi
Juga raga yang menggenapi.
Mungkin aku bukan hanya rindu kamu,
Mungkin aku ingin kita.
Mungkin sekarang atau tidak sama sekali.

Dia Bilang

Katanya aku tidak pantas untuk bersedih.
Tapi yang lain bilang aku tidak pantas dibahagiakan.

Katanya ikhlasnya karena lihat aku bahagia.
Tapi yang lain membuatku justru berpura-pura.

Katanya Ia belum bisa untuk bertemu lagi semenjak cerita dulu,
Tapi sebagian diriku yang lain lelah menjerit rindu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47,779 other followers