Cerita Tentang Hidup, Dalam Kata Dan Dengan Cinta

Hujan Bulan Desember

“Kamu jam berapa sampai rumah?”
“Sebentar lagi. Ini hari Jumat, Jakarta diguyur hujan. Kamu tau padatnya seperti apa, kan?”
“Baiklah, aku tunggu. Sudah kupanaskan hidangan sampai dua kali.”
“Bersabarlah, aku akan segera tiba.”

Kuletakkan ponselku tak jauh dari meja makan. Hampir dua jam aku menunggu suamiku pulang. Sudah kubuatkan hidangan kesukaannya.
Ini malam perayaan hari jadi pernikahan yang ketiga.

Sesekali kuperhatikan gerak jarum jam, semakin gusar aku dibuatnya.

Rumah kami hanya terisi dua kepala, tidak ada tangis atau gelak tawa balita. Hanya kami berdua.
Tapi suamiku tidak mengeluh, tidak pernah bersedih atas kehendak Tuhan bahwa rahimku tidak bisa memberinya keturunan. Kami bahagia, walau hanya berdua.

“Sayang, tidurlah lebih dulu. Tidak usah menungguku. Biarlah hidanganmu dingin, yang penting tubuhmu tidak. Pasanglah sendiri selimutmu, maaf malam ini kamu harus melakukannya sendiri bukan dengan tanganku. Aku takut tidak bisa sampai rumah tepat waktu seperti seharusnya. Tubuhku belum sampai, tapi hatiku sedang memelukmu sangat dalam. Selamat hari jadi yang ketiga. Berbahagialah selalu, karena kamu kucintai selamanya.”

Pesan itu sampai di ponselku. Menangis aku dibuatnya. Apa rupanya di kepala suamiku hingga mengetik pesan seindah ini.
Kepalaku batu, masih kutunggu kedatangannya.

Sesekali menguap, memerhatikan jarum jam lagi, lagi dan lagi…
Rupanya pejam tidak hinggap sebentar.

“…Come up to meet you, tell you I’m sorry,
You don’t know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
Tell you I’ll set you apart…”

Ponselku berbunyi,
Saat itu pukul 03.32. Cukup lama aku tertidur rupanya.
Nomor penelpon tak kukenal, tapi kuberanikan diri menerimanya.

“Halo… Siapa ini?”
“Benar ini dengan Ibu Khumaira, istri dari Bapak Abimanyu?”

Tak kuasa aku mendengar suara di seberang sana.
Telepon itu dari Rumah Sakit di Jakarta Pusat, tidak jauh dari rumah kami.
Katanya suamiku ditemukan tewas di tempat, seketika saat ada truk dari arah berlawanan menabrak mobilnya.
Truk terkutuk itu tidak pandai membaca rambu, dihajarnya lampu merah hingga menabrak mobil suamiku.

Suamiku yang paling kutunggu kedatangannya.
Suamiku yang akan duduk berdua menikmati masakanku.
Suamiku yang mencintai aku selamanya, bahkan kuyakin sampai ajal menjemputnya.

Tangisku pecah, lebih keras dari hujan yang jatuh di teras rumah.
Hujan di bulan Desember ini begitu deras,
tapi jauh lebih deras lagi di sini, di hatiku.

Tentang Lelaki

Menjadi lelaki itu berat.

Aku lihat ayahku begitu lelah karena bekerja keras. Aku yang lelah melihat, bukan beliau yang merasakan. Beliau jarang mengeluh, karena senyum kami semua selalu menguatkan kakinya. Beliau tidak pernah marah, karena doa kami meringankan beban di bahunya. Beliau ayah yang luar biasa sekalipun aku tau menjadi dirinya adalah begitu berat.

Ayahku selalu menuruti kebutuhan ibu. Apapun beliau upayakan agar ibu senang. Agar Ibu tidak mengeluh, agar Ibu bisa tersenyum dan membuatkannya masakan paling enak. Ayahku bilang Ibu tidak ada duanya. Aku bilang, mereka berdua tidak akan ada gantinya. Ayahku itu jagoan, pekerjaannya menyulap ruangan. Hasil sulapannya bisa untuk kami makan berbulan-bulan. Ayah tidak pernah berkata bosan dalam pekerjaannya, sekalipun aku tau yang beliau kerjakan itu berat.

Lantas aku kini bersuami. Aku memiliki lelakiku sendiri seperti Ibu memiliki ayah.
Aku punya lelaki yang kini bekerja untuk menghidupiku. Untuk makan kami berdua, untuk hidup layak dan kebutuhanku terpenuhi.
Lelakiku tidak pernah mengeluh, lelakiku seperti ayah.
Malah cenderung aku sering mengganggu lelakiku bekerja.

Lelakiku kadang tidak mendengarkan, lantas aku bilang lelakiku tidak peka.
Menjadi lelaki itu berat…
Semua kesalahan dilimpahkan padanya.
Semua hal harus ia mengerti.
Semua hal harus terpenuhi.
Semua hal harus dijalani.

Tapi lelakiku, lelaki yang sabar.
Menghadapi istri cerewet dan hobi berdrama.
Menghadapi istri yang gila belanja.
Menghadapi istri yang sering terkena serangan panik daripada banyak bertindak.
Menghadapi istri yang ceroboh.

Menjadi lelaki itu berat.
Menjadi suamiku lebih berat lagi.
Tapi aku tau lelakiku akan selalu ada di sini.
Seperti Ayah yang tidak pernah membiarkan anaknya sepi sendiri.

Sajadah Basah

Entah sudah isak keberapa di tahun ini, di beberapa malam belakangan.
Tangannya menengadah, berharap disambut Tuhan lalu dituntun-Nya jalan.
“Tuhan, bukakanlah pintu hatinya. Buat luluh lantak keangkuhannya. Terimalah aku sebagai tanggung jawabnya. Buat dia berhenti dan lelah membuatku terluka.”
Ia bersujud lagi entah yang keberapa kali.
Tangisnya mulai terdengar di telinganya sendiri.
“Tuhan, kalau sesakit ini yang aku dapatkan karena patah hati. Buatlah itu yang menjadi kekuatanku untuk pergi.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32,932 other followers